Ternyata Ahli Ibadah Bisa ‘Lebih Buruk’ dari Ahli Maksiat Jika Melakukan Ini

Pernahkah anda membayangkan seorang yang taat kepada perintah Allah Subhanahu Wataala,taat beribadah, tapi menjadi penghuni neraka? Atau sebaliknya seorang ahli maksiat yang menjadi penghuni surga? Untuk menjawab pertanyaan tersebut mari kita simak beberapa kisah di bawah ini!

Kisah Pertama

Allah Subhanahu Wataala pernah menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad SAW “perintahkanlah kepada kedua orang ini yaitu ‘Abid dan Khali’ untuk memperbanyak amal mereka. Sesungguhnya Aku benar-benar telah mengampuni dosa-dosa khali’ dan menghapus semua amal ibadah ‘abid.”

Wahyu ini diturunkan oleh Allah Subhanahu wataala kepada Nabi Muhammad SAW karena peristiwa berikut.

Khali adalah seorang pemuda ahli maksiat,segala bentuk kemaksiatan pernah ia lakukan. Suatu hari ia bertemu dengan Abid, Abid adalah seorang ahli ibadah dari kaum Bani Israil. Khali yang merasa dirinya seorang pendosa memiliki niat baik, ia ingin duduk di dekat si Abid yang ahli ibadah dengan harapan semoga Allah Subhanahu Wataala memberinya rahmat dan memaafkan dosa-dosanya.

Namun, ketika khali duduk di sebelah Abid, suatu tindakan yang tak disangka-sangka si khali terjadi. Ia dimaki dan ditendang oleh si Abid hingga jatuh tersungkur.

“Aku adalah seorang yang taat beribadah sedangkan kamu seorang ahli maksiat, seorang pendosa, aku tidak pantas duduk bersebelahan denganmu.” Kata si Abid.

Si khali sungguh tak menyangka akan mendapatkan perlakuan buruk itu dari si Abid.

Kisah Kedua

Meskipun hampir sama dengan yang diceritakan di atas,namun pesan yang ingin disampaikan sedikit berbeda.

Dikisahkan di dalam kitab Sittuna Qishshah dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Pada zaman Bani Israil dahulu, hidup dua orang lakilaki yang berbeda karakternya. Yang satu suka berbuat dosa dan yang lainnya rajin beribadah. Setiap kali orang yang ahli ibadah ini melihat temannya berbuat dosa, ia menyarankan untuk berhenti dari perbuatan dosanya.

Suatu kali orang yang ahli ibadah berkata lagi, ‘Berhentilah dari berbuat dosa.’ Dia menjawab, ‘Jangan pedulikan aku, terserah Allah akan memperlakukan aku bagaimana. Memangnya engkau diutus Allah untuk mengawasi apa yang aku lakukan.’ Laki-laki ahli ibadah itu menimpali, ‘Demi Allah, dosamu tidak akan diampuni oleh-Nya atau kamu

tidak mungkin dimasukkan ke dalam surga Allah.’ Kemudian Allah mencabut nyawa kedua orang itu dan mengumpulkan keduanya di hadapan Allah Rabbul’Alamin. Allah ta’ala berkata kepada lelaki ahli ibadah,

‘Apakah kamu lebih mengetahui daripada Aku? Ataukah kamu dapat merubah apa yang telah berada dalam kekuasaan tangan-Ku.’

Kemudian kepada ahli maksiat Allah berrkata lagi , ‘Masuklah kamu ke dalam surga berkat rahmat- Ku ’ . Sementara kepada ahli ibadah dikatakan ‘masukkan orang ini ke neraka-Ku

Sahabat semua, dari dua kisah di atas kita bisa mendapat beberapa pelajaran bahwa sebesar apapun dosa seseorang selama dia ada keinginan untuk bertobat maka Allah Subhahu wataala pasti akan mengampuninya asal dia tidak lagi mengulang dosanya itu,

sementara sebesar apapun amal kebaikan yang kita lakukan tapi jika dibarengi dengan kesombongan maka sai-sialah amalan tersebut. Kita juga tidak berhak menghakimi dosa yang diperbuat oleh orang lain,karena masih ada hakim yang lebih tinggi yaitu Allah Rabbul’Alamin

Sekian artikel ini semoga memberi manfaat dan menginspirasi

Leave a Reply